Tradisi Betawi yang Masih Lestari

Tradisi Betawi yang Masih Lestari – Betawi adalah salah satu suku di Indonesia, yang merupakan keturunan dari orang-orang yang tinggal di Batavia sejak abad ke-17. Gak heran jika warga Jadetabek banyak yang menyebut dirinya keturunan Betawi.

Ini Dia Budaya Betawi yang Harus Kita Lestarikan. Jangan Sampai Punah!

Menurut http://eglise-apostolique-armenienne.org/ Tiap suku bangsa biasanya punya tradisi unik di kehidupan sehari-harinya, mulai dari hal yang sifatnya sehari-hari sampai upacara adat. Berikut ini lima tradisi Betawi yang masih lestari hingga kini.

1. Ondel-ondel

Pasti gak asing, dong, sama tradisi Betawi yang satu ini! Ondel-ondel dikenal sebagai maskot suku Betawi, bahkan kini juga menjadi ikon DKI Jakarta.

Kesenian ini sudah ada sejak abad ke-16, yang mana berupa boneka raksasa yang dipakaikan pakaian adat Betawi. Ondel-ondel pada awalnya dipercaya sebagai pengusir roh jahat, dibawa ke pemakaman yang dikeramatkan terlebih dahulu sebelum dipasang.

Kini ondel-ondel lebih banyak dipentaskan sebagai kesenian, namun tanpa menghilangkan kesan sakralnya. Beberapa orang bahkan menjadikan pementasan ondel-ondel sebagai mata pencaharian.

2. Tanjidor

Tanjidor adalah kesenian musik asal Betawi yang dimainkan oleh grup atau berkelompok. Pertunjukan tanjidor biasanya dipentaskan di acara penting seperti peringatan hari besar, pernikahan, atau saat arak-arakan ondel-ondel.

Satu grup pemain tanjidor biasanya terdiri dari 7-10 orang. Alat musik yang dimainkan adalah klarinet, piston, trombon, saksofon tenor, saksofon bass, drum, simbal, dan tambur. Lagu-lagu yang dibawakan pun kental nuansa Betawi, seperti Kicir-kicir dan Jali-jali.

3. Palang pintu

Pernah menyaksikan rangkaian prosesi pernikahan adat Betawi? Palang pintu adalah tahapan yang gak boleh terlewat, di mana mempelai pria akan ditantang oleh perwakilan dari pihak mempelai wanita untuk unjuk kebolehan bela diri dan berpantun.

Mengkutip dari https://103.55.38.71/ Palang pintu bisa diwakili oleh dua perwakilan dari masing-masing mempelai atau langsung dilakukan oleh mempelai pria menghadapi kerabat dari pihak pengantin wanita. Dua orang ini akan berbalas pantun sambil melakukan gerakan silat.

4. Roti buaya

Selain palang pintu, pernikahan adat Betawi juga identik dengan roti buaya. Jika julukan buaya kerap diberikan pada laki-laki yang suka menggombal dan dicap gak setia, justru adat Betawi menganggap buaya sebagai simbol kesetiaan.

Sepasang roti buaya biasanya ada dalam deretan seserahan. Satu roti berukuran besar melambangkan pria, sementara roti lainnya yang lebih kecil melambangkan mempelai wanita. Filosofi ini adalah simbol keberuntungan, kesetiaan, dan kemakmuran pasangan yang baru menikah.

Pada awalnya, roti buaya hanya dijadikan pajangan di rumah orangtua mempelai wanita sebagai tanda bahwa anak gadisnya sudah dilamar. Namun, kini masyarakat Betawi memilih untuk mengonsumsinya agar gak mubazir.

5. Nyorog

Nyorog adalah tradisi Betawi yang biasanya dilakukan jelang bulan Ramadan. Namun, ini bisa juga dilakukan kapan saja karena tradisi ini mengajarkan pentingnya menjaga tali silaturahmi antar kerabat dan orang-orang terdekat.

Tradisi nyorog berasal dari kata sorogan yang berarti bingkisan atau hantaran. Nyorog dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada kerabat yang lebih tua atau dituakan. Barang yang dibawa saat nyorog biasanya berupa sembako atau makanan siap santap.