Tokoh Agama Minta Peran FKUB Ditinjau Lagi, Kenapa?

Tokoh Agama Minta Peran FKUB Ditinjau Lagi, Kenapa?

Tokoh Agama Minta Peran FKUB Ditinjau Lagi, Kenapa?

Tokoh Agama Minta Peran FKUB Ditinjau Lagi, Kenapa? – Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) menilai tidak signifikan untuk mencegah konflik lintas agama pada akar rumput. Pada samping itu, peran FKUB sebagai pemberi rekomendasi pendirian rumah ibadah, sebagaimana mengatur dalam surat keputusan bersama (SKB) 2 Menteri tentang pendirian rumah ibadah, juga tidak optimal.

“Pengalaman kami dalam hal mengurus izin mendirikan rumah ibadah, IMB (izin mendirikan bangunan) juga pada pemerintah, peranan FKUB tidak ada sama sekali,” ungkap Pendeta Hari Jese Hutagalung dalam workshop yang tergelar oleh Kabar SEJUK, Selasa 7 Juli 2020.

Hari merupakan tokoh Kristen yang berjuang agar Gereja Huria Kristen Indonesia (HKI) yang berada pada Bale Indah, Bandung Selatan, memiliki kelengkapan administrasi termasuk IMB. Sejak 2012, gereja itu tersegel dan tidak mengizinkan oleh pemerintah setempat untuk menggelar kegiatan ibadah.

“Pada 1994 ada sebuah tanah yang terbeli gereja. Itu sertifikatnya lengkap. Gereja itu berdiri hingga Mei 2012. Karena kami warga negara yang baik, maka kami mengurus izin sesuai SKB 2 Menteri 2006.  Dalam pengurusannya itulah bermasalah. Maka, mulai 2012 sejak Pemda mengeluarkan segel, gereja itu tidak bisa terpakai ibadah,” tambah ia.

1. Hasil keputusan FKUB ternilai sering kali tidak menyelesaikan masalah

Idealnya, kata Hari, FKUB menjadi penengah ketika konflik lintas agama terjadi pada masyarakat. Namun, sering kali permasalahan yang terbahas FKUB tidak memunculkan solusi karena tidak berpihak terhadap kelompok minoritas.

Terlansirkan dari https://christian-mommies.com/desktop/home.“Ada memang perwakilan Kristen pada FKUB Bandung, beliau dari GKP, tapi itu mekanisme pengambilan keputusan voting, ya jelas kami kalah. Walau beliau dari Kristen menyuarakan kekristenan, ujung-ujungnya pasti kalah. Makanya kami mengatakan FKUB gak ada signifikannya,” tutur alumni Sekolah Tinggi Theologia (STT) HKI Medan itu.

2. Protes juga terlontarkan tokoh Ahmadiyah

Tokoh Ahmadiyah pada Tasikmalaya, Nanag Darojat, juga menyuarakan keresahannya terkait peran FKUB yang tidak terlihat ketika Pemkab Tasikmalaya berupaya menutup Masjid Al Aqso pada Singaparna pada April lalu. Nanang mengaku, Ahmadiyah selama ini tidak pernah menjadi perhatian atau terlibatkan dalam kegiatan FKUB.

“FKUB di Tasikmalaya tidak signifikan. Kadang suka tidak berdiri ke tengah. Kadang suka mendukung teman-teman dari ormas yang selama ini seperti itu (menolak) Ahmadiyah. Komunikasi dan koordinasi selama ini kami belum pernah terundang kegiatan yang terinisiasi oleh FKUB,” tambah ia.

3. Meninjau ulang peran FKUB

Sebagai bentuk aspirasi, Hari dan Nanang berharap peran FKUB tertinjau kembali. Menurut mereka, FKUB harus lebih aktif dalam upaya mencegah konflik sekaligus memberi perhatian terhadap kelompok minoritas yang selama ini hak beragamanya terrenggut oleh negara.

“Oleh sebab itu, usul saya supaya tertinjau kembali atau terbenahi peran FKUB,” tutup Hari.