Makna Ritual Pitu Gunungkidul

Makna Ritual Pitu Gunungkidul

Makna Ritual Pitu Gunungkidul

Makna Ritual Pitu Gunungkidul – Di sisi timur Gunung Api Purba Nglanggeran, terdapat sebuah kawasan sakral bernama Kampung Pitu. Memiliki peraturan unik, kampung ini hanya boleh dihuni oleh 7 Kepala Keluarga (KK). Tidak boleh kurang, tidak boleh lebih.

Selain itu, mereka yang boleh tinggal di tanah yang terletak di Dusun Nglanggeran Wetan ini hanyalah turunan dari Eyang Iro Kromo. Dia adalah orang yang pertama kali tinggal di Kampung Pitu ribuan tahun lalu.

Karena adanya peraturan tersebut, tanah seluas 7 hektar itu kini benar-benar hanya dihuni 7 KK dengan total 30 orang penduduk dan 8 bangunan rumah.

Meski masih banyak tanah, tidak ada orang luar yang berani menjadi pendatang baru dan bermukim di Kampung Pitu saking kelewat sakralnya.

Tak hanya tentang jumlah 7 kepala keluarga yang dipertahankan oleh warga Kampung Pitu selama ratusan tahun. Berbagai ritual budaya dan spiritual tetap dilestarikan hingga saat ini.

Berbagai kegiatan warga Kampung Pitu seolah tak lepas dari nilai hidup yang sakral. Mulai dari panen hingga membangun atau memperbaiki rumah dilakukan dengan gotong royong dan dibarengi dengan upacara adat.

Salah seorang warga Kampung Pitu, Sugito (45) menceritakan, ada beberapa upacara adat utama di kampungnya. Beberapa di antaranya Tingalan, Tayub/Ledek, Rasulan, Ngabekten, Mong-mong Pedet, dan Mong-mong Motor.

Menyapa kami dengan hangat, Redjo yang sudah berumur 103 tahun, masih begitu bersemangat menceritakan seluk beluk Kampung Pitu.

Menurut Redjo, dulunya Kampung Pitu berawal dari sayembara Keraton yang menjanjikan hadiah tanah bagi siapapun yang mau dan mampu menjaga pohon pusaka bernama Kinah Gadung Wulung.

Tingalan dalam Bahasa Jawa artinya peringatan hari ulang tahun di dalam budaya warga Kampung Pitu tidak sembarangan. Hanya tokoh sesepuh kampung saja yang boleh melaksanakannya.

“Setiap tanggal lahir dengan tanggalan Jawa, atau disebut neton dalam bahasa Jawa,” kata Sugito.

Hal ini disampaikan Sugito di rumahnya di Kampung Pitu, Pedukuhan Nglaggeran Wetan, Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Selasa.

Sedangkan tayub merupakan kesenian tarian yang ditampilkan warga setahun sekali di acara Rasulan. Pementasan Tayub digelar di dekat Tlogo atau telaga di Kampung Pitu.

anah hadiah ini nantinya tak hanya untuk si pemenang sayembara namun juga para keturunannya. Dengan catatan, hanya 7 KK dari keturunan si pemenang saja yang bisa hidup dan bertahan di tanah bersangkutan.

Ada empat tembang atau lagu Jawa yang harus dinyanyikan yaitu Blendrong, Ijo-ijo, Eleng-eleng, dan Sri Slamet.

“Empat lagu itu bentuk ucapan syukur karena hasil panen yang melimpah,” imbuhnya.

Tentang Rasulan, warga Kampung Pitu percaya akan datang bala bencana jika tradisi ini tidak dijalankan. Upacara adat ini berupa doa bersama seluruh warga disertai membuat sesaji yang kemudian dibagikan sebagai bentuk sedekah dari warga Kampung Pitu kepada kerabat, keluarga dan tetangga.

“Kalau Ngabekten adalah prosesi kenduri saat selesai menaikkan kayu paling atas rumah (saat membangun rumah),” tutur Sugito.

Tata cara upacara adat Ngabekten diawali dengan memanjatkan doa bersama yang kemudian dilanjutkan dengan penyiraman kayu suwunan (kayu paling atas dari rangka rumah) dengan bunga setaman.

“Setelah selesai ritual kayu suwunan akan dinaikkan bersama warga masyarakat yang datang dan dilanjutkan dengan Ngabekten,” jelasnya.

Selain itu, terdapat ritual Mong-mong Pedet yang digelar setiap kelahiran hewan ternak seperti sapi, kerbau dan kambing. Tak hanya hewan ternak, warga Kampung Pitu juga menggelar ritual adat saat membeli kendaraan motor.

“Ritual ini namanya Mong-mong Motor. Menjadi bentuk syukur terhadap segala bentuk yang diterima warga Kampung Pitu,” kata Sugito.

Apabila peraturan 7 KK ini dilanggar, sambung Redjo, akan ada hal buruk yang menimpa si pelanggar. Bahkan, disebutkan ada orang luar yang tiba-tiba meninggal setelah mengeyel ingin bermukim di Kampung Pitu.

Ono wong anyar mboten asli mriki arep urip ten mriki. Kulo wangsuli mboten kenging, tapi nekat. Ten mriki tiyange sedo (Dulu ada orang dari luar yang ingin bermukim di sini. Sudah saya kasih tahu tidak boleh tapi nekat. Akhirnya orangnya meninggal),” ujar Redjo saat ditemui pada Selasa lalu.

Perihal penyebab kematian, imbuh Redjo, yang bersangkutan tahu-tahu masuk angin beberapa hari sebelum akhirnya meninggal dunia.

Wetan iki arep digawe omah, omahe durung dadi tapi wonge wis meninggal (Pernah ada orang luar yang bikin rumah di sebelah barat ini, rumahnya belum jadi, orangnya sudah meninggal),” sambung Redjo.

Berkaca pada kejadian di luar nalar itu, warga Kampung Pitu maupun masyarakat umum pun lebih memilih mematuhi peraturan yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *