Kadiyono, Tukang Tambal Ban yang Dirikan SLB

kadiyono, Tukang Tambal Ban yang Dirikan SLB

Tukang Tambal Ban yang Dirikan SLB

Tukang Tambal Ban yang Dirikan SLB – Dapat bersekolah dan memiliki banyak teman tentu menjadi salah satu impian anak-anak. Tetapi, ternyata tak semua anak dapat merasakan bangku sekolah. Entah karena faktor ekonomi, keadaan maupun fisik.

Baca juga : Pelukan Putri Kapten I Kadek Korban Kecelakaan Helikopter, Haru!

Melihat kondisi tersebut, seorang pria bernama Kadiyono berinisiatif untuk mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB). Tak hanya mendirikan, ia bersama guru-guru lain juga melakukan antar jemput siswa yang kurang mampu.

Tukang Tambal Ban

Melalui unggahan channel Youtube TRANS7 OFFICIAL, terdapat kisah inspiratif dari seorang pria bernama Kadiyono. Sehari-hari, Kadiyono bekerja sebagai tukang tambal ban.

Kadiyono diketahui merupakan lulusan S2 dan telah mendirikan Sekolah Luar Biasa (SLB) Intan Tiara Bangsa.

“Namanya SLB Insan Tiara Bangsa,” kata Kadiyono.

Antar Jemput Anak Didik

Untuk mempermudah kegiatan belajar mengajar, Kadiyono dan guru-guru SLB yang lain melakukan antar jemput anak didik yang kurang mampu. Hal ini dilakukan untuk meringankan beban orang tua.

“Betul karena kondisi di tempat kami, orang tuanya yang pertama minder. Artinya dengan anaknya itu dia merasa rendah diri. Yang kedua, karena kesibukan dari orang tuanya, bahkan anak pun dipekerjakan. Artinya dipekerjakan membantu adiknya atau membantu yang lain,” ungkap Kadiyono.

“Yang ketiga, ekonomi. Karena ini ekonomi, maka anak-anak yang kita jemput, katakan yang kurang. Yuk kita jemput yang penting anak-anak sekolah,” lanjutnya.

Tidak Mematok Biaya Sekolah

Tak hanya melakukan antar jemput anak didik. Dalam proses belajar mengajar, Kadiyono juga tak mematok biaya sekolah.

“Bahkan, kami tidak memasang target bapak ibu harus ngasih berapa, enggak. Yang penting anak sekolah, kalau bapak ibu mau ngasih, kita terima,” kata Kadiyono.

Harapan

Kadiyono pun mengungkapkan harapannya untuk anak-anak didiknya di SLB. Ia ingin membantu anak-anak SLB untuk menjadi cahaya bagi keluarga, diri sendiri, bahkan negara dan bangsa.

“Anak-anak yang seperti itu (difabel) menurut pandangan masyarakat, tanda kutip adalah anak-anak yang keterbelakangan atau kurang. Maka saya dengan niat hati berapapun cahaya yang diterima anak itu nanti kami akan membantu cahayanya untuk menerangi. Walaupun hanya keluarga, diri sendiri, kalau bisa, negara dan bangsa,” kata Kadiyono.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *