Gereja Katedral Makassar, Simbol Toleransi Agama Sejak Masa Penjajahan

Gereja Katedral Makassar, Simbol Toleransi Agama Sejak Masa Penjajahan

Gereja Katedral Makassar atau Gereja Hati Yesus Yang Mahakudus merupakan salah satu landmark Kota Daeng lantaran memiliki nilai historis yang tinggi.

Kronologi Bom Bunuh Diri di Katedral Makassar versi Pastor

Di lansir dari eglise-apostolique-armenienne.org, berlokasi di Jalan Kajaolalido No.14, Kecamatan Ujung Pandang, letak Gereja Katedral Makassar (GKM) sangat strategis di pusat kota serta tak jauh dari Lapangan Karebosi. GKM pula menjadi saksi bisu perkembangan pesat di Makassar, masa pemerintahan kolonial Belanda, penjajahan Jepang hingga revolusi kemerdekaan negeri ini.

Penuh sejarah dan menjadi simbol toleransi umat beragama, Gereja Katedral Makassar pada Minggu (28/3/2021) di guncang ledakan bom. Masyarakat sekitar panik, korban pun berjatuhan. Peristiwa ini lagi-lagi menciderai keamanan dan kenyamanan masyarakat dalam beribadah.

Berikut ini adalah sejarah singkat Gereja Katedral Makassar yang tak terlepas dari lika-liku penyebaran Katolik di Sulawesi Selatan, mari simak ulasannya.

1. Gereja Katedral Makassar erat dengan sejarah penyebaran Katolik di Makassar

Di kutip dari chiflatiron.cn.com/, sejarah Gereja Katedral Makassar tak lepas dari riwayat penyebaran agama Katolik di Makassar. Dalam buku Sejarah Gereja Katolik Indonesia (G. Vriens, 1972), pertama kali tibanya tiga pastor dan misionaris asal Portugal yakni Pastor Antonio do Reis, Cosmas de Annunciacio, seorang bruder bernama Bernardinode Marvao, di Pelabuhan Makassar pada 1525 menjadi awal penyebaran Katolik di Makassar dan Sulawesi Selatan.

Di Makassar, ketiganya melakukan pelayanan kepada para pelaut dan warga Portugis yang beragama Katolik. Selain itu, mereka turut melayani sejumlah raja dan bangsawan Sulawesi Selatan yang telah di baptis. Pada 1548, Pastor Vincente Viegas di datangkan dari Malaka ke Makassar sebagai tambahan tenaga.

Pada masa pemerintahan Sultan Alauddin (1591-1638), Raja Gowa pertama yang memeluk Islam, ia secara resmi memberi izin umat Katolik untuk mendirikan gereja pada 1633. Ini jadi contoh bahwa toleransi sudah berada di Bumi Daeng sejak zaman lampau.

2. Perjanjian Bongaya 1667 dan pengusiran para rohaniawan Katolik

Persaingan ketat Belanda-VOC dengan Portugis yang berebut supremasi perdagangan rempah-rempah Nusantara turut berimbas pada aktivitas pastor-misionaris Portugis di Makassar.

VOC yang berhasil merebut bandar Malaka dari Portugis pada Januari 1641 setelah bertempur selama dua bulan. Akibatnya, sebanyak 45 imam dan 20.000 orang Portugis di usir. Makassar, melalui titah Sultan Alauddin, menerima pengungsi sebanyak 3.000 orang

Kebijakan toleransi kemudian di teruskan oleh Sultan Hasanuddin (memerintah 1653-1670). Namun, semua berubah usai Perjanjian Bongaya 1667. VOC mewajibkan pengusiran seluruh orang Portugis dari Makassar, termasuk para rohaniawan.

Mereka dengan berat hati pergi dari kota yang sudah di tinggali selama tiga dekade, persaudaraan pun putus. Bruder Antonio de Torres, yang baru bertolak pada 1668, terpaksa meninggalkan sekolah kecil untuk anak laki-laki setempat yang sudah di asuhnya sangat lama.