Fakta seputar Yahudi

Fakta – Ketua Hadassah Indonesia Monique Rijkers membeberkan sejumlah fakta terkaid agama Yahudi yang kerap disalahpahmi oleh banyak orang. Baginya, fakta yang ia ketahui menjadi penting untuk disosialisasikan, Manginagt Israel dan Yahudi merupakan dua topik yang tifak pernah tuntas di bahas di Tanah Air ini.

“Pernah ada riset yang menunjukkan kalau kata Yahudi atau Israel selalu menjadi topik hangat di Indonesia, meski gak selalu trending nomor satu. Kita bisa lihat kemarin, isu Yahudi dan Israel bisa menggerakkan orang berbondong-bondong ke Monas. Di Indonesia ini dua kata itu sensitif banget, jangan-jangan jarum jatuh saja bisa disambung-sambungkan ke Yahudi,” kata Monique kepada IDN Times, baru-baru ini.

Baca juga : Penolakan Warga Pemakaman Jenazah Positif Virus Corona

Sebagai upaya mengedukasi masyarakat dan meluruskn pemahaman yang tidak benar terkait dua topoik di atas, Monique mendirikan Hadssah Indonesia, sebagai sarana menyebarkan toleransi di tengah pemberitaan yang tidak seimbang. Hassadah Indonesia adalah organisasi yang mengedukasi tentang keberagaman, khususnya terkait Yahudi dan Israel.

“Saya pernah menjadi jurnalis di sejumlah media beberapa tahun lalu. Kemudian saya berkunjung ke Israel dan melihat, kok beda banget sama apa yang diberitakan, sebagai jurnalis saya merasa sebel, dong. Nah, Hadassah ini didirikan untuk menyediakan pemberitaan berimbang sekaligus memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai Yahudi,” kata Monique.

Lantas, apa saja sih fakta penting seputar ajaran Yahudi? Yuk cari tahu!

1. Tidak sembarangan orang bisa masuk atau memeluk Agama Yahudi
Untuk fakta pertama, wanita kelahiran Makassar itu mengatakan Yahudi bukan agama yang dapat dipeluk oleh sembarang orang. Hanya mereka yang memiliki keturunan Bani Israel yang bisa memeluk agama ini.

“Agama Yahudi ini bukan agama syiar, kalau bahasa di Kristen itu misionaris, ya. Artinya, tidak ada yang bisa memeluk Yahudi kecuali keturunannya. Oleh sebab itu, saya rasa Muslim di Indonesia atau penganut agama lain tidak perlu khawatir dengan keberadaan Yahudi harusnya,” kata dia.

2. Yahudi telah di jamin Tuhannya menjadi kaum Minoritas
Alumni Fakultas Biologi Universitas Kristan Salatiga itu menyebutkan, keberadaan kaum Yahudi sebagai minoritas merupakan janji Tuhan sebagaimana termaktub dalam firman-Nya.

“Di manapun kita berada, kita pasti menemukan Yahudi, tapi jumlahnya gak besar. Karena memang demikian prediksi Tuhan. Saya sih mengira, mentok-mentok penganut Yahudi di dunia hanya 18 juta jiwa dengan mayoritas tinggal di Yerussalem dan New York,” kata dia.

“Meski agama mereka melarang penggunaan obat sejenis KB (pencegah kehamilan), tetap saja jumlah mereka akan tetap menjadi minoritas kapan pun. Mungkin ini juga yang menjadikan standar minimal untuk umat Yahudi beribadah adalah 10, kalau di Islam untuk salat Jumat itu kan 40, ya,” kata Monique.

3. Kepercayaan akan ‘tanah yang dijanjikan’
Monique mengutip penggalan sabda Tuhan di dalam Yehezkiel 37:21. Menurut ayat tersebut, Tuhan telah menjanjikan kepada kaum Yahudi untuk kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’, dalam hal ini adalah Israel, setelah mereka dipaksa mejadi diaspora ke berbagai negeri pasca-Perang Dunia.

“Penganut Yahudi memiliki kewajiban untuk Aliyah, yaitu kewajiban untuk kembali ke tanah yang dijanjikan. Aliyah ini bahasa teologisnya, kebanyakan orang mengenal dalam bahasa politiknya, yaitu Zionisme,” ungkap Monique.

“Tapi perlu diingat, Aliyah hanya wajib bagi mereka yang memeluk agama Yahudi. Bagi saya, meski saya merupakan keturunan Yahudi, saya tidak berkewajiban untuk Aliyah. Saya cinta agama saya dan saya cinta Indonesia. Jadi saya tidak akan susah payah untuk kembali ke ‘tanah yang dijanjikan’ itu,” dia melanjutkan.

4. Isu pembangunan kembali kuil Salomon bukan kebijakan pemerintah Israel
Beberapa saat lalu, sempat beredar kabar jika kaum Yahudi di Israel telah menyiapkan rencana khusus untuk kembali membangun tempat ibadah yang megah di atas puing-puing Kuil Salomon. Terkait hal itu, Monique justru mempertanyakan siapakah yang layak menjadi Rabbi?

“Di Yahudi itu gak bisa sembarang klan atau marga yang bisa jadi Rabbi. Itu pun mereka harus menikah dengan klan yang sama dan banyak aturan-aturan lainnya,” ujar Monique.

Kendati, miniatur dari Kuil Salomon yang didirikan ulang telah menyebar di dunia maya, wanita berdarah Yahudi Belanda ini menepis tuduhan bahwa pembangunan tersebut merupakan kebijakan dari pemerintah Israel.

“Pemerintah (Israel) tidak merencanakan untuk membangun ulang (Kuil Salomon), karena memang itu perintahnya dari Tuhan. Sedangkan Tuhan tidak memerintahkan agar membangun kuil untuk yang ketiga kalinya. Karenanya saya, kita, isu pembangunan kembali itu dimainkan oleh segelintir kelompok atau yayasan yang punya kepentingan,” kata Monique.

5. Yahudi memiliki kewajiban memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya
Layaknya agama pada umumnya, Yahudi memiliki kewajiban Tikkun Olam atau memperbaiki bumi. Dalam hal ini, dimanapun kaum Yahudi hidup, mereka harus memberikan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.

“Segala aktivitas mereka harus untuk meningkatkan kualitas kehidupan dan membawa dampak positif bagi dunia. Ini yang menjadi kontribusi orang Yahudi di berbagai belahan dunia,” papar Monique.

Lebih jauh lagi, kata Monique, kewajiban dalam agama Yahudi tidak jauh berbeda seperti Islam. Seperti larangan untuk menyantap babi, berbuat zina, dan mereka juga harus ibadah tiga waktu dalam sehari.

“Karenanya saya teringat dengan salah satu tokoh yang saya temui tatkala menghadiri undangan di Israel. Kata dia, sesungguhnya Islam dan Yahudi menyembah Tuhan yang sama, yaitu Allah,” tutup Monique.

Sumber : idntimes.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *